Sunday, 2 December 2012

Tidak Takut Tantangan (Bilangan 13:30-31)



Berbicara mengenai tantangan, maka bisa dikatakan bahwa tidak semua orang bersedia menerima tantangan. Artinya, ada orang-orang tertentu yang takut, tidak mau menerima bahkan menghindari tantangan. Padahal tantangan itu sebenarnya suatu kesempatan yang bisa membawa kita pada tingkatan yang lebih tinggi lagi.
Sejak zaman Perjanjian Lama sudah ada orang-orang yang takut dan menghindari tantangan, namun ada juga pribadi-pribadi optimis yang tidak takut dengan tantangan. Jika kita melihat kembali sejarah perjalanan bangsa Israel keluar menuju Mesir, maka kita akan menemukan banyak tantangan yang dialami oleh bangsa tersebut. Salah satu diantaranya ketika kedua belas pengintai diberi tugas untuk mengintai tanah Kanaan. Ada tantangan yang dialami mereka. Kita akan menemukan dua respon berbeda terhadap tantangan yang ada pada saat itu. Beberapa diantara kedua belas pengintai memiliki rasa takut terhadap tantangan. “Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita”. Kata-kata ini yang diucapkan oleh orang yang takut tantangan, sehingga itu akan melemahkan dan membuat mereka semakin mudah menyerah terhadap tantangan. Berbeda dengan orang optimis yang tidak takut tantangan yaitu Kaleb. Ia berkata “Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!” (Bilangan 13:30-31). Orang yang tidak takut tantangan akan memiliki sikap semangat, tidak mudah menyerah dan keyakinan yang luar biasa dalam menghadapi tantangan.  
            Tantangan apapun yang kita alami saat ini, jangat takut! Kita harus memiliki sikap yang optimis atau tidak mudah menyerah. Ingat bahwa dalam menjalani kehidupan ini, kita tidak pernah ditinggalkan sendiri. Ada satu Pribadi yang senantiasa menyertai, memberikan kekuatan dan pertolongan dalam setiap tantangan yang kita alami. Pribadi tersebut adalah Tuhan. Dia berkuasa, setia dan baik. Hadapi tantangan bersama-sama dengan-Nya, maka kita akan mengalami kemenagan!

Tantangan, siapa takut? Hadapilah tantangan, ingat bahwa ada Tuhan yang menolong ”!








Ratapan atas Negeri (Yeremia 8:18-22)



           Indonesia adalah bangsa yang kaya, subur, makmur dan indah. Kekayaan sumber daya alam yang ada  menjadi salah satu alasan bangsa lain untuk menguasai dan mendudukinya. Namun, negeri Indonesia tercinta yang kaya dan indah itu kini sedang dilanda oleh perbuatan-perbuatan yang tidak berkenan dihadapan Tuhan. Pertikaian, perzinahan, korupsi, penyembahan berhala dan lain-lain menjadi suatu tindakan yang bukan asing atau tabu lagi untuk dilakukan. Manusia hidup dalam pemberontakan terhadap Allah. Kalau sudah begini, bagaimana respon kita sebagai orang percaya? Apa yang sudah dan bisa kita lakukan untuk negeri Indonesia tercinta?
            Beberapa abad yang lalu, Yehuda dan Yerusalem juga berada pada kedaan dimana orang-orang melakukan tindakan yang memberontak Allah. Manusia melakukan berbagai tindakan dosa, sehingga Allah murka terhadap mereka. Yeremia 8:18-22, dengan jelas menceritakan bagaimana respon Yeremia. Pada saat itu, ia sebagai nabi mengalami suatu kesedihan yang mendalam, meratapi bangsa tersebut. Dia tak mampu menahan air mata, merasakan kehancuran hati Allah di dalam jiwanya seperti Yesus, hatinya teriris oleh kasih yang turut merasakan luka-luka jiwa orang-orang di sekitarnya, mereka yang penuh borok kejahatan dan menantikan kebinasaan. Yeremia memohon pengampunan bagi bangsanya sambil berkabung.
            Renungan hari ini mengajak kita untuk tidak hanya berfokus pada kepentingan diri kita sendiri, tetapi mengajak kita untuk peduli akan orang lain, bahkan keadaan suatu bangsa. Indonesia yang di dalamnya terdapat banyak jiwa sungguh memerlukan pengampunan, pemulihan, keselamatan dan berkat dari Tuhan. Mari, kita memiliki hati seperti Kristus yang mementingkan kepentingan orang lain dengan melakukan kehendak Bapa-Nya. Lakukan sesuatu tindakan untuk bangsa kita! Melalui perkataan dan tindakan, jadilah berkat bagi jiwa-jiwa dan bangsa yang membawa mereka untuk mengenal Allah.Berdoalah untuk Indonesia agar Tuhan mencurahkan kasih setianya yang sanggup memulihkan bangsa kita.

 Teruslah berdoa dan jadi berkat untuk Indonesia tercinta”!


Siapkan Pakaian Pesta (Matius 22:1-14)



            

Respon setiap orang terhadap sebuah undangan bisa saja berbeda-beda, terlepas undangan itu bersifat positif atau negatif. Ada yang merespon dengan menolak karena berbagai alasan, ada yang cuek saja tidak mau tahu, tetapi ada juga yang menerima dengan baik. Respon tersebut akan menentukan bagimana kesiapan dalam menghadiri undangan tersebut.
Dalam Matius 22:1-14 dikatakan bahwa hal kerajaan sorga diumpamakan seperti seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ada beberapa orang yang diundang, tetapi mereka tidak mengindahkan hal itu dan tidak mau datang ke pesta tersebut. Maka raja itu murka dan memusnahkan kota mereka. Kemudian undangan diberikan kembali kepada orang-orang dan ada respon yang berbeda. Mereka bersedia, bersiap-siap dan mau hadir sehingga pesta kawin tersebut penuh dengan tamu. Namun diantara tamu-tamu yang hadir itu ternyata ada seorang yang tidak benar-benar siap untuk menghadiri pesta, ia tetap datang tetapi datang dengan tidak memakai pakaian pesta. Ia tidak mempersiapkan dirinya dengan baik untuk hadir ke pesta itu. Sesuatu yang kelihatan asing dan aneh jika orang datang ke pesta, tetapi tidak memakai pakain pesta atau pakaian yang layak.  Orang tersebut ditanya, namun diam saja dan akhirnya ia diikat dan dicampakkan ke dalam kegelapan dimana terdapat ratap dan kertakan gigi.
Ketika kita membaca perumpaan tersebut, mungkin terpikir oleh kita kejam sekali raja tersebut. Itu bukan kejam, tetapi di dalamnya ada pengajaran, ketegasan dan disiplin. Perumpamaan tersebut mengajarkan kepada kita untuk serius dalam hal mempersiapkan diri menantikan kedatangan Yesus Kristus yang kedua kalinya. Raja dalam perumpamaan itu adalah Tuhan dan tamu undangan itu adalah manusia. Tuhan telah memberikan jalan keselamatan atau “undangan” dengan rela mati di kayu salib dan Dia berjanji akan datang untuk yang kedua kali. Bagaimana respon kita selama ini terhadap hari Tuhan yang pasti akan tiba? Sudahkah kita mempersiapkan diri dengan benar? Tentunya kita sudah tau apa yang akan kita alami jika kita tidak siap. “Pakaian pesta” berbicara mengenai kesiapan kita yaitu menjaga iman kita dan hidup dalam kekudusan. Biarlah setiap kita mempersiapkan diri dengan benar untuk menantikan kedatangan-Nya!

 “Jangan Lengah, Persiapkan dirimu untuk menantikan kedatanga-Nya yang kedua kali”