Indonesia
adalah bangsa yang kaya, subur, makmur dan indah. Kekayaan sumber daya alam
yang ada menjadi salah satu alasan
bangsa lain untuk menguasai dan mendudukinya. Namun, negeri Indonesia tercinta
yang kaya dan indah itu kini sedang dilanda oleh perbuatan-perbuatan yang tidak
berkenan dihadapan Tuhan. Pertikaian, perzinahan, korupsi, penyembahan berhala
dan lain-lain menjadi suatu tindakan yang bukan asing atau tabu lagi untuk
dilakukan. Manusia hidup dalam pemberontakan terhadap Allah. Kalau sudah
begini, bagaimana respon kita sebagai orang percaya? Apa yang sudah dan bisa
kita lakukan untuk negeri Indonesia tercinta?
Beberapa abad yang lalu, Yehuda dan
Yerusalem juga berada pada kedaan dimana orang-orang melakukan tindakan yang
memberontak Allah. Manusia melakukan berbagai tindakan dosa, sehingga Allah
murka terhadap mereka. Yeremia 8:18-22, dengan jelas menceritakan bagaimana
respon Yeremia. Pada saat itu, ia sebagai nabi mengalami suatu kesedihan yang
mendalam, meratapi bangsa tersebut. Dia tak
mampu menahan air mata, merasakan kehancuran hati Allah di dalam jiwanya seperti
Yesus, hatinya teriris oleh kasih yang turut merasakan luka-luka jiwa
orang-orang di sekitarnya, mereka yang penuh borok kejahatan dan menantikan
kebinasaan. Yeremia memohon pengampunan bagi bangsanya sambil berkabung.
Renungan hari ini mengajak kita
untuk tidak hanya berfokus pada kepentingan diri kita sendiri, tetapi mengajak
kita untuk peduli akan orang lain, bahkan keadaan suatu bangsa. Indonesia yang
di dalamnya terdapat banyak jiwa sungguh memerlukan pengampunan, pemulihan,
keselamatan dan berkat dari Tuhan. Mari, kita memiliki hati seperti Kristus
yang mementingkan kepentingan orang lain dengan melakukan kehendak Bapa-Nya.
Lakukan sesuatu tindakan untuk bangsa kita! Melalui perkataan dan tindakan,
jadilah berkat bagi jiwa-jiwa dan bangsa yang membawa mereka untuk mengenal
Allah.Berdoalah untuk Indonesia agar Tuhan mencurahkan kasih setianya yang
sanggup memulihkan bangsa kita.
“Teruslah berdoa dan jadi berkat
untuk Indonesia tercinta”!
No comments:
Post a Comment